|
Mengartikan Sahabat
seperti menerka terbang layang-layang
bergemuruh di samudra diam
Kelam malam cekatan menidurkan rembulan, temanku sayang
Ketika suara desahmu serupa kidung yang membangun madah-madah biru
‘malam teman, esok pagi masih panjang’
Dan aku seolah tak mendengar apapun
Bahkan suara tangismu setelah itu
Yang bagai memecah telinga semesta
Tak penuh kuhabisi ayat-ayatmu kawan.
Maaf
Tapi masih ada bulan malam ini
Padahal lubang hitam tua menganga
Surga itu gamang, kawan
‘hidupku bukan untuk aku!”
wanita-wanita tua berbisik-bisik bisu seperti itu
maafkan pengecut ini, sayang
langit keburu pecah malam itu
mengirim kesepian yang sengit
melahirkan pembunuh yang picik
melahirkan aku
Kemana lg harus kukirim pelangi,
Bila nila dan jingganya mati di tanganmu!
Kupikir kau telah sampai di khayangan setelah jumpai matahari hari ini
Bunuh…bunuh…
Bunuh…
Bunuh saja apa yang kau ciptakan.
barangkali sepanjang hidup aku mesti pergi
setelah terusir dari perhentian yang terimpi
aku ingat, ketika menunggumu di tepi alir, berharap dirimu hadir,
hanya sajak-sajak getir yang kau kirim lewat gulir-gulir nadir
sedang aku masih saja berkisar dari liang onak dan pusar
tapi isyarat yang kau hulubalangkan ke indera, kembali aku maknai sebagai manusia
aku pun terjungkal terus saja melipat angan dan akal
sampai aku tersadar, perburuanku padamu hanyalah sekat yang membuat kita tak pernah bersua di satu dunia
seperti ingkar, aku pun tersia di ujung rahasia,
aku terbakar dalam penat begar.
-RS-

|